Maafkan anakmu......Aku pernah berjanji untuk membawakan calon menantu untuk kalian di lebaran kali ini...... Aku tersadar, ternyata aku belum benar-benar serius dengan janjiku itu Pak… Bu…
Aku sudah siap lahir batin. Aku siap dengan ribuan pertanyaan soal jodoh dan menikah yang akan memberondongku di hari lebaran ini.
Orang pertama yang akan menanyaiku soal jodh dan menikah sudah pasti Bapak dan Ibu sendiri. Aku tak pernah risih dengan pertanyaan itu jika yang bertanya adalah Bapak dan Ibu. Aku tahu, Bapak dan Ibu hanya ingin mengingatkan, tak pernah mendesak atau bahkan memaksa hingga aku jadi trauma.
Tapi aku justru tak nyaman jika pertanyaan itu datang dari teman-temanku, tetangga, dan juga sanak saudara yang lainnya. Beberapa dari mereka bertanya dengan cara yang halus dan setengah bercanda, bahkan sekadar basa-basi. Aku juga heran, kenapa orang-orang harus memilih topik basa-basi seperti ini? Kenapa tidak membicarakan soal sidang itsbat yang mendebarkan kemarin saja? Ah sudahlah…
Tapi ada juga yang bernada setengah menghardik, menceramahi, bahkan memojokkan. Mereka bukannya menasihati dan berbagi cerita denganku, tapi justru menakut-nakutiku Pak.. Bu.. Mereka yang sudah menikah seolah-olah kehidupannya sudah jauh lebih baik dari aku yang masih betah melajang ini.
Tapi ya sudahlah, aku harus bisa berdamai dengan fenomena aneh ini. Kali ini aku tak akan gentar menghadapinya. Aku sudah siap lahir batin. Aku sudah mengantongi seribu satu jawaban pamungkas untuk pertanyaan satu ini. Aku sudah banyak-banyak baca di media-media online tentang bagaimana cara elegan berkelit dari pertanyaan “kapan menikah” saat lebaran.
